Ringkasnya: chatroulette lahir pada 2009, diciptakan oleh seorang remaja Rusia berusia 17 tahun. Konsepnya — dihubungkan secara acak dengan orang asing lewat webcam — menjadi viral dan mengilhami puluhan platform, dari Omegle hingga Bazoocam sampai alternatif gratis masa kini.
Obrolan video acak kini menjadi bagian dari budaya internet. Tapi dari mana asalnya? Mari menengok sejarah sebuah konsep yang sesederhana itu sekaligus jenius.
2009: sebuah ide dari seorang remaja
Chatroulette pertama diluncurkan akhir 2009 oleh seorang pelajar SMA asal Rusia berusia 17 tahun. Idenya sangat minimalis: dua webcam, dua orang asing yang diundi, dan sebuah tombol "berikutnya" untuk berpindah ke orang selanjutnya.
Kesuksesannya langsung mendunia. Hanya dalam beberapa bulan, situsnya melonjak dari segelintir pengguna menjadi ratusan ribu koneksi per hari. Media meliputnya, para selebritas membicarakannya: chatroulette menjadi sebuah fenomena.
Masa keemasan para alternatif
Karena konsepnya mudah ditiru, banyak platform bermunculan setelahnya. Omegle mempopulerkan obrolan teks dan video dengan orang asing, Bazoocam merebut hati Prancis dan Eropa, sementara yang lain berfokus per negara, per bahasa, atau per kalangan tertentu.
Setiap layanan membawa ciri khasnya: filter berdasarkan minat, ruang obrolan bertema, moderasi yang lebih ketat. Perkenalan lewat webcam pun semakin memasyarakat dan menjangkau kalangan yang kian luas.
Kini: gratis, mobile, dan tanpa daftar
Setelah Omegle ditutup, generasi baru alternatif mengambil alih. Yang terbaik kini sudah gratis, anonim, tanpa daftar, dan dirancang untuk perangkat mobile.
Camyster hadir dalam garis ini: menyatukan puluhan chatroulette berdasarkan bahasa dan suasana, sambil tetap menjaga semangat aslinya — keajaiban bertemu orang asing, secara acak, hanya dengan satu klik.
